YUSDIERNY : KITA HARUS PEDULI DAN CEGAH KANKER SERVIKS DAN PAYUDARA SEJAK DINI

WONOSARI – Bidan Desa Wonosari, Yusdierny menghimbau kepada seluruh kaum perempuan untuk peduli dan mencegah kanker serviks dan payudara sejak dini.

Hal ini disampaikannya ketika melakukan sosialisasi sekaligus pemeriksaan IVA Test dan Sadanis pada Sabtu (28/2/2020) pukul 09.00 WIB di Polindes Desa Wonosari.

Yusdierny menyampaikan pentingnya pemeriksaan IVA sebagai deteksi dini gejala kanker serviks dan SADANIS untuk mendeteksi keberadaan kanker payudara pada wanita. Deteksi dini ini merupakan skrining awal untuk mengetahui kondisi para wanita yang berpotensi mengidap kedua penyakit mematikan ini sehingga mereka dapat memperoleh pengobatan lebih awal sebelum sel kanker menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Kanker leher rahim atau serviks merupakan kanker terbanyak yang diderita oleh perempuan di Indonesia. Kanker ini berawal dari tumor ganas yang mengenai leher rahim dan disebabkan oleh Human Papiloma Virus (HPV). Leher rahim yang terpapar virus HPV berpotensi menjadi kanker dalam waktu 3-17 tahun jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. Deteksi dini terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan Test IVA. Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) adalah pemeriksaan skrining kanker serviks dengan pemberian asam asetat atau asam cuka pada leher rahim selama 1 menit. Pemberian asam asetat ini merupakan metode mudah dan murah namun memiliki tingkat akurasi tinggi untuk menyimpulkan hasil pemeriksaan IVA negatif (normal) atau positif (ada lesi pra kanker). Dalam durasi 60 detik, hasil pemeriksaan akan diketahui jika ada kelainan, yaitu munculnya plak putih pada serviks yang perlu diwaspadai sebagai luka pra kanker. Idealnya, skrining pada wanita usia 35 – 40 tahun wajib dilakukan setiap 3 tahun sekali. Sedangkan bagi wanita yang belum menikah, sangat dianjurkan untuk melakukan vaksin HPV terlebih dahulu.

Selain kanker serviks, kanker payudara masuk dalam daftar 10 penyebab kematian terbanyak perempuan di Indonesia. Meski belum ditemukan obat penyembuhnya, kita dapat mencegah munculnya penyakit ini dengan melakukan serangkaian pemeriksaan rutin seperti Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS). SADARI dapat dilakukan pada rentang hari ke 7 – 10 setelah hari pertama menstruasi dimana payudara sedang dalam kondisi paling lunak. Langkah awal melakukan SADARI adalah dengan mengamati kondisi payudara, lalu mengangkat tangan sebelah kanan dan raba payudara dengan tangan kiri dari arah pinggir, memutar ke arah putting susu lalu tekan dengan perlahan. Apabila terdapat cairan berwarna merah darah maka bisa saja merupakan indikasi adanya sel kanker. Lakukan gerakan yang sama dalam keadaan berbaring untuk meraba kemungkinan adanya benjolan. Memang, tidak semua benjolan berarti kanker. Namun, apabila menemukan benjolan yang tidak terasa sakit dan muncul selama 2 kali siklus menstruasi, lebih baik datang ke dokter spesialis onkologi untuk dilakukan SADANIS guna menegakkan jenis benjolan yang ada. Selain melakukan SADARI dan SADANIS, kanker dapat dicegah dengan menjalankan pola hidup CERDIK yaitu dengan Cek kesehatan berkala, hindari asap rokok, rajin aktifitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup dan kelola stress.

Pemeriksaan kali ini diikuti oleh 10 peserta yang merupakan ibu rumah tangga di Desa Wonosari.

“Tahap awal ini kami hanya melakukan pemeriksaan untuk 10 orang terlebih dahulu dan nantinya pemeriksaan akan dilakukan lagi pada bulan April 2020 untuk kaum perempuan lainnya di Desa Wonosari,” terang Yusdierny.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*