KAMPUNG TEMPE BENGKALIS

Tempe merupakan makanan yang berasal dari biji kedelai yang difermentasikan dengan ragi. Tempe merupakan bahan pangan yang sangat bermanfaat bagi tubuh kita. Kandungan protein dan seratnya yang tinggi sangat cocok sebagai penyeimbang kebutuhan serat dan protein tubuh kita. Meskipun tergolong makanan tradisional dan sederhana tempe merupakan makanan yang masih digemari oleh masyarakat kita. terutama bagi vegetarian yang membutuhkan protein nabati sebagai pengganti protein hewani.

Kampung Tempe adalah julukan dari sebuah dusun yang ada didesa Wonosari kecamatan Bengkalis kabupaten Bengkalis. Dusun tersebut adalah Muktisari atau yang lebih dikenal dengan Tegalsari. Kenapa dusun ini dijuluki kampung tempe? Tegal Sari merupakan sebuah dusun yang warganya memiliki usaha produksi tempe yang cukup banyak. Rasanya yang khas dan gurih mampu menguasai selera konsumen di Kabupaten Bengkalis bahkan di luar kabupaten Bengkalis. Namun pemasaran masih di ruang lingkup Bengkalis saja. Disampaikan oleh salah seorang pengusaha tempe, Tuni. “Anak saya kalau pergi ke Pekanbaru untuk kuliah saya bawakan tempe, karena teman-temannya banyak yang suka. Bahkan ada yang beli dengan anak saya”. hanya saja kami para pengusaha tempe belum memiliki akses untuk mempromosikan tempe Tegalsari keluar Bengkalis, masih dari mulut ke mulut”, tambahnya.

Dusun Tegalsari adalah salah satu dusun yang ada di desa Wonosari Bengkalis yang mayoitas warganya bersuku jawa. hampir semua produsen tempe mengatakan bahwa usaha yang sudah mereka jalani adalah meneruskan usaha dari orang tua mereka yang  dulunya berasal dari Jawa yang merantau kebengkalis. Orang-orang dulu menjadikan tempe sebagai mata pencaharian mereka hingga usaha itu dilanjutkan oleh anak-anak mereka saat ini. artinya usaha produsi tempe ini adalah usaha turun temurun yang sejak dulu sudah dijalankan.

Jumlah produksi tempe di setiap produsen bervariasi. Mulai dari yang kecil-kecilan 3-5kg per harinya hingga produksi skala besar 50-60kg per harinya. Jadi RW.04 dusun Tegal Sari ini memproduksi tempe tidak kurang dari 300kg per harinya. Keuntungan yang didapat juga berbeda, berkisar dari Rp.200.000 sampai Rp.700.000 perhari. Dalam hal ini para produsen sangat kesulitan dalam menyebutkan keuntungan bersih yang mereka dapatkan, karena pendapatan di atas merupakan pendapatan kotor yang masih akan dibagi-bagi untuk keperluan produksi tempe yang memang harus dipenuhi setiap harinya, termasuk biaya kebutuhan sehari-hari.

Dalam setiap usaha produksi tempe ini tak menutup kemungkinan mereka menghadapi kendala terutama mengenai ketersediaan bahan baku. Seperti persedaiaan kedelai di pasaran yang kadang mengalami kemacetan, persediaan daun pisang yang digunakan untuk membungkus tempe menipis, serta tranportasi juga bisa menjadi kendala dalam ketersediaan bahan baku. Namun semua itu tidak membuat para pengusaha Tempe di Tegalsari mengalami kemacetan total. Biasanya mereka sudah membeli bahan baku dalam sekala besar untuk persediaan.

Banyak hal yang sudah dicapai oleh para pengusaha tempe di dusun Tegalsari ini. Mbah Yam, yang sudah lebih dari 35 tahun menjalani usaha tempe sudah bisa menunaikan ibadah haji. Ibu Tumilah yang sejak tahun 2004 meneruskan usaha tempe dari orang tuanya saat ini bisa membiayai 3 orang putra putrinya dan membantu perekonomian keluarga. Begitu juga Ibu Tuni dan Mbah Suratun, dengan hasil  dari usaha produksi tempe mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana. hal ini dapat dilihat dari kegigihan mereka dalam menjalankan usaha mereka  dalam memenuhi kebutuhan hidup sahari-hari dan mampu memberikan pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka.  
   
Dengan hadirnya akses internet Sistem Informasi Desa dan Kawasan (SIDeKa) yang merupakan bantuan dari Kementrian Komunikasi dan Informasi (KEMKOMINFO) yang berupa website resmi diharapkan dapat membuka jalan untuk para pengusaha tempe dibengkalis agar dapat mengembangkan sayap pemasaran tempe lebih luas lagi. Dengan adanya Website desa Wonosari, tempe Tegalsari tidak hanya dapat dipasarkan di Bengkalis Provinsi Riau tapi mampu menembus pasar mancanegara.

Saat ditemui disela-sela kesibukannya, Kepala Desa Wonosari, Suswanto memberikan tanggapannya mengenai unit-unit usaha tempe yang ada di dusun Tegalsari. Beliau menyampaikan keterbukaannya bagi para pengusaha tempe untuk memanfaatkan fasilitas internet desa. Sehingga usaha tempe yang ada bisa semakin maju dan meningkatkan perekonomian warga desa itu sendiri.

Dengan potensi yang dimiliki desa Wonosari, terlebih di bidang pertanian tidak menutup kemungkinan untuk desa Wonosari membuka lahan pertanian kedelai mengingat sumber daya manusia dalam pengolahan kedelai menjadi tempe sudah ada.”kita akan memaksimalkan lagi potensi yang ada di desa Wonosari dengan merambah kepada jenis pertanian lain selain nanas yang saat ini cukup mendominasi lahan pertanian Wonosari. Mudah-mudahan tidak hanya nanas, tapi tempe juga akan bisa menjadi ikon desa kita”. ujarnya. (FPY/Pers Desa)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan